REPORTASENTT.COM, FLORIDA- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menanggapi keluhan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, yang menyatakan bahwa negaranya tidak diikutsertakan dalam perundingan antara AS dan Rusia.
Trump menilai bahwa Ukraina memiliki waktu bertahun-tahun untuk mencapai kesepakatan guna menghindari kehilangan lebih banyak wilayah.
Dalam pernyataannya di resor Mar-a-Lago, Florida, Trump menyatakan kekecewaannya terhadap Zelenskyy yang mengeluhkan absennya Ukraina dalam pembicaraan tersebut.
"Saya sangat kecewa, saya dengar mereka kesal karena tidak memperoleh kursi dalam pembicaraan," ujar Trump kepada wartawan.
Mantan Presiden AS itu juga tampaknya menyalahkan Kyiv atas invasi Rusia, seraya mengklaim bahwa Ukraina seharusnya bisa mencapai kesepakatan sebelum konflik pecah.
Mantan Presiden AS itu juga tampaknya menyalahkan Kyiv atas invasi Rusia, seraya mengklaim bahwa Ukraina seharusnya bisa mencapai kesepakatan sebelum konflik pecah.
"Hari ini saya mendengar, Oh, kami tidak diundang. Nah, Anda sudah di sana selama tiga tahun. Anda seharusnya tidak pernah memulainya. Anda bisa saja membuat kesepakatan," kata Trump.
Baca Juga: Netizen NTT Banjiri Media Sosial Cristiano Ronaldo: 'Jadi Datang ke Kupang ko Sonde Nyadu?
Berbicara pada Selasa malam, Trump juga meningkatkan tekanan terhadap Zelenskyy untuk mengadakan pemilihan umum, menggemakan tuntutan yang juga diajukan oleh Rusia.
Berbicara pada Selasa malam, Trump juga meningkatkan tekanan terhadap Zelenskyy untuk mengadakan pemilihan umum, menggemakan tuntutan yang juga diajukan oleh Rusia.
Selain itu, ia mengisyaratkan kemungkinan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin sebelum akhir bulan, di tengah perubahan kebijakan Washington terhadap Rusia yang membuat para pemimpin Eropa khawatir.
Sebelumnya, Zelenskyy mengkritik perundingan AS-Rusia yang tidak melibatkan Ukraina, dengan menegaskan bahwa upaya perdamaian harus "adil" dan menyertakan negara-negara Eropa.
Sebelumnya, Zelenskyy mengkritik perundingan AS-Rusia yang tidak melibatkan Ukraina, dengan menegaskan bahwa upaya perdamaian harus "adil" dan menyertakan negara-negara Eropa.
"Pembicaraan sedang berlangsung antara perwakilan Rusia dan AS, tentang Ukraina, tetapi tanpa Ukraina," kata Zelenskyy.
Pernyataan itu tampaknya membuat Trump geram, yang kemudian melontarkan kritik tajam terhadap pemimpin Ukraina tersebut.
Pernyataan itu tampaknya membuat Trump geram, yang kemudian melontarkan kritik tajam terhadap pemimpin Ukraina tersebut.
Ketika ditanya apakah AS akan mendukung tuntutan Rusia agar Zelenskyy mengadakan pemilu, Trump mengatakan Ukraina memiliki hak untuk bersuara
"Bukankah rakyat Ukraina memiliki hak untuk bersuara? Sudah lama sejak mereka mengadakan pemilu," kata Trump.
Baca Juga: Hotman Paris Bongkar Fakta Mengejutkan! Peran Istri Razman dalam Kasus Pelanggaran Kode Etik
Menurut Trump, Ukraina belum menggelar pemilu selama masa darurat militer, sementara popularitas Zelenskyy terus menurun.
Menurut Trump, Ukraina belum menggelar pemilu selama masa darurat militer, sementara popularitas Zelenskyy terus menurun.
"Saya tidak suka mengatakannya, tetapi tingkat persetujuannya turun hingga 4 persen. Ukraina hancur berkeping-keping, kota-kota porak-poranda," lanjutnya.
Menanggapi pernyataan Trump, Zelenskyy dalam wawancara dengan media Jerman ARD membela dirinya.
"Saya presiden Ukraina karena 73 persen rakyat memilih saya. Dan hari ini, saya tetap presiden karena mayoritas rakyat masih mendukung saya," ujarnya.
Ia juga menuduh Rusia ingin menyingkirkannya secara politik karena dianggap sebagai ancaman bagi Putin.
Sementara itu, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS di bawah Presiden Joe Biden, Sean Savett, menuduh Trump percaya pada propaganda Rusia.
Sementara itu, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS di bawah Presiden Joe Biden, Sean Savett, menuduh Trump percaya pada propaganda Rusia.
Baca Juga: Ramai Tren #KaburAjaDulu, Istana Angkat Bicara: Merantau ke Luar Negeri Jangan Asal Pergi!
"Pengingat bagi semua orang, Putin memulai perang ini dengan menginvasi Ukraina tanpa alasan, dan pasukannya telah melakukan kejahatan perang terhadap rakyat Ukraina," tulis Savett di media sosial.
Para pemimpin Eropa juga semakin khawatir bahwa Trump terlalu banyak memberi konsesi kepada Rusia dalam upayanya mencapai kesepakatan damai.
Para pemimpin Eropa juga semakin khawatir bahwa Trump terlalu banyak memberi konsesi kepada Rusia dalam upayanya mencapai kesepakatan damai.
Namun, Trump bersikeras bahwa satu-satunya tujuannya adalah "perdamaian" guna mengakhiri konflik terburuk di Eropa sejak Perang Dunia II.
Baca Juga: Nurul Arifin: Pembatasan Akses Internet untuk Anak Penting demi Melindungi Privasi dan Keamanan Data
"Saya rasa saya punya kekuatan untuk mengakhiri perang ini, dan saya merasa prosesnya berjalan dengan sangat baik," tegas Trump.
"Saya rasa saya punya kekuatan untuk mengakhiri perang ini, dan saya merasa prosesnya berjalan dengan sangat baik," tegas Trump.
Ia juga menyatakan dukungannya terhadap pasukan penjaga perdamaian Eropa di Ukraina jika kesepakatan damai tercapai.
Komentar Trump muncul setelah Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menegaskan bahwa negaranya tidak akan menerima kehadiran pasukan penjaga perdamaian NATO di Ukraina dalam kesepakatan damai apa pun.
Komentar Trump muncul setelah Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menegaskan bahwa negaranya tidak akan menerima kehadiran pasukan penjaga perdamaian NATO di Ukraina dalam kesepakatan damai apa pun.
Baca Juga: Melly Goeslaw Ungkap Kekagumannya Terhadap Peran Ormas dan Lembaga Kemanusiaan dalam Perjuangan Palestina
Trump mengejutkan dunia dengan mengumumkan bahwa ia telah berbicara dengan Putin dan bahwa keduanya sepakat untuk memulai perundingan damai.
Trump mengejutkan dunia dengan mengumumkan bahwa ia telah berbicara dengan Putin dan bahwa keduanya sepakat untuk memulai perundingan damai.
Meski belum ada tanggal resmi, Trump mengatakan bahwa kemungkinan besar ia akan bertemu dengan Putin dalam waktu dekat.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran Eropa, pejabat Uni Eropa mendesak AS untuk tidak berpihak pada Moskow.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran Eropa, pejabat Uni Eropa mendesak AS untuk tidak berpihak pada Moskow.
Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Kaja Kallas, menegaskan pentingnya kerja sama dengan AS dalam mencapai perdamaian yang "adil dan abadi" sesuai dengan kepentingan Ukraina.
Artikel Terkait
4 Tanggapan Istana Soal ‘Indonesia Gelap’: dari Prabowo hingga Mensesneg, Ada yang Dibantah dan Ada yang Diimbau!
Hotman Paris Bongkar Fakta Mengejutkan! Peran Istri Razman dalam Kasus Pelanggaran Kode Etik
Media Arab Saudi Soroti Rencana Kunjungan Cristiano Ronaldo ke Indonesia, Jelang Laga Al Nassr vs Al Ettifaq Jumat Malam
Netizen NTT Banjiri Media Sosial Cristiano Ronaldo: 'Jadi Datang ke Kupang ko Sonde Nyadu?
Ada Pesan Penting di Banner Itwasda Polda NTT, Warga Diminta Perhatikan!