Dua Belas Tahun Menembus Bukit Hada Kewa, Demi Hidup dan Harapan Warga Pedalaman

Photo Author
Yuga Yuliana, Reportase NTT
- Selasa, 20 Mei 2025 | 10:02 WIB
Wilhelmus Pari (Foto/ Bernad Nara Gere)
Wilhelmus Pari (Foto/ Bernad Nara Gere)

 

REPORTASENTT.COM, LEMBATA- Setiap pagi, ketika kabut masih menyelimuti lereng Hada Kewa dan suara hutan bersenandung lirih di kejauhan, seorang pria paruh baya menyalakan mesin tuanya.

Wilhelmus Pari, akrab disapa Mus, kembali menantang jalur bebukitan yang sempit, licin, dan rawan longsor, mengandalkan mobil tuanya yang tak pernah benar-benar utuh, tapi juga tak pernah menyerah.

Selama dua belas tahun, Mus menjadi penghubung satu-satunya antara warga pedalaman Leba Tukan dan dunia luar.

Baca Juga: Dari Pao Ile hingga Sanggar Seni, Helanlangowuyo Tunjukkan Geliat Budaya

Ia bukan hanya sopir. Ia adalah jembatan hidup, pengangkut harapan, sekaligus saksi bisu kerasnya hidup orang Lamaholot di tengah gempuran modernisasi yang seringkali datang tanpa kompensasi nyata.

Berkeringat di Jalanan, Demi Masa Depan Anak- anak

Tak pernah ia mengeluh. "Biar kami tidak makan hari ini, asal anak-anak sekolah. Itu cita-cita saya," ujarnya pelan, saat ditemui Reportasentt.com, di sela-sela menurunkan hasil kebun warga, kemiri, porang, kelapa, dan kadang hasil barter sembako dengan jagung kering.

Wajahnya legam, penuh peluh, namun mata tetap menyala.

Dari gaji pas-pasan sebagai sopir mobil barang, hingga menjadi andalan tunggal mengangkut hasil kebun warga sekecamatan, Mus tak segan mengambil risiko.

Baca Juga: Kasus di Kupang: Pelajar SD Meninggal Usai Dirawat, Seorang Pria Kini Jadi Tersangka

Jalur yang ia lalui bukanlah jalan biasa. Lebar hanya cukup untuk satu kendaraan, dengan tebing di satu sisi dan jurang di sisi lain.

Tanah liat yang licin membuat kendaraan lain memilih mundur, tapi tidak bagi Mus.

“Sudah banyak yang pernah coba masuk sini. Tapi cuma sekali. Habis itu, tidak pernah kembali,” katanya sambil tersenyum getir.

Baca Juga: Prabowo Buka- bukaan soal Usia, Sumpah Besar, dan Korupsi: Saya Tidak Gentar!

Tonggak Penyangga Harapan Pedalaman

Warga menyebut Mus sebagai “tonggak harapan”. Bukan tanpa alasan.

Halaman:

Editor: Yuga Yuliana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X