Ketika harga komoditas jatuh di kota, Mus tetap setia mengangkut hasil tani mereka.
Saat kebutuhan pokok sulit dijangkau, Mus bersedia memikul barang dari kota untuk ditukar dengan hasil kebun.
Baca Juga: Gunung Lewotobi Meletus Senin Dini Hari, Status Awas, Ini 5 Hal yang Harus Kamu Tahu!
Sistem barter hidup kembali di sini, berkat kejujuran dan ketekunan Mus dalam menjembatani ekonomi pedalaman.
“Kalau bukan kita, siapa lagi?” tuturnya singkat, menunjukkan sekarung kelapa yang ia bawa dari Desa Lera Hinga menuju kampung tetangga.
Kini, dua belas tahun telah berlalu. Mobil tuanya mulai sering mogok. Badannya pun tak sekuat dulu. Tapi Mus tetap mengemudi, menembus kabut, melawan lumpur, demi satu hal, harapan.
Baca Juga: Asuransi Umum Terpukul! Rugi Rp10 T, Dampak Global Menggila di 2024
Harapan agar anak-anak Leba Tukan tak lagi harus memilih antara sekolah dan ladang. Harapan agar petani kecil tak hanya jadi penonton di tengah derasnya arus pasar. Harapan agar suara dari pedalaman, sekecil apapun, tetap terdengar.
Artikel Terkait
Fenomena Langka di Lumajang! Anak- anak 'Ngintip' Matahari dari Alun-alun, Ada Apa?
Prabowo Buka- bukaan soal Usia, Sumpah Besar, dan Korupsi: Saya Tidak Gentar!
Guru Kober di Flotim Ancam Tutup Sekolah, Audiensi dengan Wakil Bupati Bahas PPG dan PPPK
Kasus di Kupang: Pelajar SD Meninggal Usai Dirawat, Seorang Pria Kini Jadi Tersangka
Dari "Pao Ile" hingga Sanggar Seni, Helanlangowuyo Tunjukkan Geliat Budaya