Sebagian besar papan sudah hilang, menyisakan drum-drum semen bekas fondasi.
Gazebo di area pesisir pun tak luput dari kerusakan.
Satu gazebo diketahui roboh dan sebagian strukturnya telah terendam air laut.
Baca Juga: Lewo Belle Lama Tuka, Jejak Peradaban Lamaholot yang Tersisa di Lembata
Dua lainnya terlihat rapuh, tidak digunakan dan ditinggalkan begitu saja.
Area taman yang dulunya terawat kini berubah menjadi semak belukar.
Kekecewaan pun diungkapkan para pengunjung.
Baca Juga: Paus Leo XIV Resmi Buka Kembali Apartemen Kepausan di Istana Apostolik
“Dulu tempat ini ramai. Sekarang sunyi. Sayang sekali,” tutur Petrus Doni Tela, warga Larantuka yang datang bersama keluarganya.
Seorang petugas di loket tiket menyebutkan bahwa sejumlah fasilitas memang sengaja ditutup karena alasan keselamatan.
Salah satunya adalah menara kayu setinggi 10 meter yang dulu menjadi favorit wisatawan untuk menikmati panorama Gunung Ile Mandiri dan lautan biru dari ketinggian.
Baca Juga: Proyek Sumur Bor Solor Tuai Sorotan, Kadis Pertanian Flotim Klarifikasi Isu Intervensi
“Dulu pengunjung bisa naik ke atas, lihat pemandangan dari puncak. Sekarang kami tutup karena kondisinya sudah rusak parah,” jelasnya.
Dari atas menara tersebut, wisatawan biasanya bisa menyaksikan Gunung Ile Mandiri berdiri megah di kejauhan, dikelilingi gugusan bukit dan hamparan laut biru.
Keindahan itu kini hanya tersisa dalam kenangan.
Baca Juga: FIFA Jatuhi Sanksi ke Indonesia Usai Suporter Lakukan Hal Ini Saat Lawan Bahrain
Minimnya perawatan, fasilitas yang rusak, serta akses terbatas membuat daya tarik Air Panas Mokantarak meredup.
Artikel Terkait
Negara Ini Resmi Haramkan Permainan Catur, Kegiatan Turnamen dan Latihan Dihentikan
Menang 3-0, Pulang Malah Dihajar! Bus Persik Diserang di Depan Kanjuruhan
FIFA Jatuhi Sanksi ke Indonesia Usai Suporter Lakukan Hal Ini Saat Lawan Bahrain
Nyaris Adu Jotos, Dua Warga di Sikka Mendadak Berdamai Usai Polisi Datang
Dari Destinasi Unggulan Jadi Lokasi Terbengkalai: Nasib Ironis Air Panas Mokantarak- Larantuka