Baca Juga: TNI Turun Kawal Kejaksaan, Kapolri dan Menkumham Kompak Singkat Bicara!
Banyak suami dari suku Lado Purab dibunuh oleh pengikut Ekan. Para janda dari suku itu lalu memasang perangkap, menangkapnya hidup-hidup.
Dalam puncak amarah kolektif, Ekan Watanlolon diperlakukan dengan kejam , tubuhnya diiris dan dikuliti oleh para istri yang kehilangan pasangan, sebelum akhirnya digiring ke desa Kolon Tobo.
Jejak tragedi itu masih diingat hingga kini. Anting Ekan Watanlolon dikisahkan jatuh di Belaon Gopak, sementara gelang gading miliknya ditemukan di Muruone. Tetua adat menyebut:
“Lali kepa bunu talin, lali wulo dopi laru.”
Sebuah frasa yang merekam rasa luka, kehilangan, dan kehormatan yang terkoyak, diwariskan dalam nyanyian, ritual, dan penamaan tempat.
Baca Juga: Tak Cuma Dipenjara, Harta Mantan Menteri Pertanian Ini Terancam Ludes Disita KPK
Kini, di Desa Peni Kene, Kecamatan Naga Wutun, sisa-sisa kisah itu menjadi narasi hidup.
Bukan hanya tentang perang, tapi tentang bagaimana sejarah, mitos, dan identitas tetap bertahan di balik keindahan danau kawah Ile Ape, tempat di mana bumi bercerita, dan leluhur masih berbisik.
Artikel Terkait
"MUSIK KEREN” Resmi Diluncurkan Gubernur NTT, Apa Isi dan Dampaknya bagi Rakyat?
RUPS Luar Biasa Bank NTT: Gubernur Kupas Alasan di Balik Direksi Bebas Politik
Relokasi ala Pemda Kupang: Warga Pulau Kera Melawan Penggusuran Berkedok Lingkungan
Judi, Miras, Hingga Narkoba Diburu! Ini Operasi Rahasia Polres Flotim
Anak Jadi Tenaga Ahli, Proyek Dikuasai? Sekda DKI Jakarta Resmi Dilaporkan ke KPK