Jejak Atlantis di Kaki Ile Ape, Legenda Perang Suku Demon dan Paji di Lembata

Photo Author
Bernad Nara Gere, Reportase NTT
- Jumat, 16 Mei 2025 | 15:08 WIB
Foto dua orang Kakek sedang menyusuri hutan. (Foto/ MEA)
Foto dua orang Kakek sedang menyusuri hutan. (Foto/ MEA)


Baca Juga: TNI Turun Kawal Kejaksaan, Kapolri dan Menkumham Kompak Singkat Bicara!

Banyak suami dari suku Lado Purab dibunuh oleh pengikut Ekan. Para janda dari suku itu lalu memasang perangkap, menangkapnya hidup-hidup.

Tokoh adat Ile Ape, Yohanes Enga. (Foto/ Bernad Nara Gere)

Dalam puncak amarah kolektif, Ekan Watanlolon diperlakukan dengan kejam , tubuhnya diiris dan dikuliti oleh para istri yang kehilangan pasangan, sebelum akhirnya digiring ke desa Kolon Tobo.

Jejak tragedi itu masih diingat hingga kini. Anting Ekan Watanlolon dikisahkan jatuh di Belaon Gopak, sementara gelang gading miliknya ditemukan di Muruone. Tetua adat menyebut:

“Lali kepa bunu talin, lali wulo dopi laru.”
Sebuah frasa yang merekam rasa luka, kehilangan, dan kehormatan yang terkoyak, diwariskan dalam nyanyian, ritual, dan penamaan tempat.

Baca Juga: Tak Cuma Dipenjara, Harta Mantan Menteri Pertanian Ini Terancam Ludes Disita KPK

Kini, di Desa Peni Kene, Kecamatan Naga Wutun, sisa-sisa kisah itu menjadi narasi hidup.

Bukan hanya tentang perang, tapi tentang bagaimana sejarah, mitos, dan identitas tetap bertahan di balik keindahan danau kawah Ile Ape,  tempat di mana bumi bercerita, dan leluhur masih berbisik.

Halaman:

Editor: Yuga Yuliana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X