Malam di Kampung Adat: Tradisi yang Menghidupkan
Beberapa wisatawan bahkan memilih untuk menginap di kampung ini.
Baca Juga: Satgas Pekat Polres Flotim Amankan 8 Remaja Pesta Miras di Pelabuhan Larantuka
Saat malam tiba, mereka disambut dengan pertunjukan budaya seperti tarian sole, sili, dan gawi au.
Irama gendang dan lantunan bernyanyi tradisional menciptakan suasana hangat sekaligus mistis.
“Kampung ini luar biasa. Apa yang kami lihat benar-benar asli, tidak dipol,” kata Bernadus menirukan pernyataan seorang wisatawan.
Ekonomi Bergerak Bersama Budaya
Kehadiran turis turut menggerakkan roda ekonomi warga. Produk-produk lokal seperti kelapa muda, keripik pisang, ubi, hingga kain tenun khas mulai dijajakan kepada pengunjung.
Baca Juga: Jejak Atlantis di Kaki Ile Ape, Legenda Perang Suku Demon dan Paji di Lembata
“Ini bukan sekedar hiburan. Ini peluang ekonomi yang lahir dari budaya sendiri,” kata Bernadus.
Fasilitas Masih Terbatas
Namun, geliat pariwisata ini belum sepenuhnya didukung infrastruktur yang memadai.
Ketersediaan toilet umum, misalnya, menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi saat menerima tamu dari luar.
“Kami akui ini masih kurang. Tapi ini menjadi masukan penting untuk kami dan pemerintah,” ungkapnya.
Baca Juga: Anak Jadi Tenaga Ahli, Proyek Dikuasai? Sekda DKI Jakarta Resmi Dilaporkan ke KPK
Harapan untuk Masa Depan
Kini, Pokdarwis Helanlangowuyo membuka diri terhadap dukungan dari berbagai pihak—baik pemerintah, swasta, maupun media.
Mereka berharap nama Helanlangowuyo dan Lamahelan dapat dikenal luas, tanpa kehilangan roh budaya yang menjadi identitas utama.
Artikel Terkait
Kapolres Ende Tekankan Pentingnya Keharmonisan Keluarga bagi Insan Bhayangkara
"MUSIK KEREN” Resmi Diluncurkan Gubernur NTT, Apa Isi dan Dampaknya bagi Rakyat?
RUPS Luar Biasa Bank NTT: Gubernur Kupas Alasan di Balik Direksi Bebas Politik
Relokasi ala Pemda Kupang: Warga Pulau Kera Melawan Penggusuran Berkedok Lingkungan
Judi, Miras, Hingga Narkoba Diburu! Ini Operasi Rahasia Polres Flotim