Polemik Panas Bumi di Flores: Potensi Besar, Kepercayaan Publik Kecil

Photo Author
Tarwan Stanis, Reportase NTT
- Selasa, 6 Mei 2025 | 07:39 WIB
Rapat Koordinasi Pengembangan Geothermal di Pulau Flores, di kantor Gubernur NTT. (Foto Facebook Melki Laka Lena)
Rapat Koordinasi Pengembangan Geothermal di Pulau Flores, di kantor Gubernur NTT. (Foto Facebook Melki Laka Lena)

 

Flores disebut sebagai ‘Pulau Panas Bumi’ karena potensi energi geotermalnya yang melimpah.

Namun, pengembangan energi bersih ini justru tersandung resistensi masyarakat dan minimnya komunikasi yang inklusif.

 

REPORTASENTT.COM, KUPANG-  Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sejak 2017 dijuluki sebagai Pulau Panas Bumi.

Julukan itu bukan tanpa dasar. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Flores memiliki lebih dari 30 titik potensi panas bumi dengan daya mencapai 900 megawatt.

Angka itu menjadikan Flores sebagai kawasan strategis dalam peta transisi energi nasional.

Namun, hingga kini, pemanfaatan potensi tersebut masih jauh dari kata optimal. Total kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang beroperasi di Flores baru mencapai 18 megawatt (MWe), kurang dari seperempat kebutuhan listrik wilayah NTT.

Baca Juga: Kecelakaan Maut di Traffic Light Vitka Tiban, Satu Tewas, Tiga Luka Berat

Selebihnya, lebih dari 75 persen kebutuhan energi masih dipasok dari bahan bakar fosil yang harus didatangkan dari luar.

Kondisi ini tidak hanya menambah beban logistik, tetapi juga menyedot dana publik dalam jumlah besar.

Tak kurang dari Rp790 miliar APBN digelontorkan tiap tahun untuk subsidi dan kompensasi bahan bakar minyak di wilayah timur Indonesia itu.

Sebuah ironi, mengingat Flores menyimpan cadangan energi bersih dan terbarukan yang melimpah.

Baca Juga: Tragedi di Kantor Dinas: Pembunuhan Berencana Terungkap dalam Rekonstruksi

Forum Energi: Cari Titik Temu, Redam Ketegangan

Pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan organisasi masyarakat sipil menggelar pertemuan di Kantor Gubernur NTT, 28 April lalu.

Forum ini dipimpin oleh Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi Kementerian ESDM bersama Gubernur NTT.

Hadir pula pakar geotermal dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir. Pri Utami, M.Sc., Ph.D., IPM, yang mendorong pendekatan lintas sektor dan budaya dalam pengembangan panas bumi.

Halaman:

Editor: Tarwan Stanis

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X