REPORTASENTT.COM, LARANTUKA- Ada sebuah kota kecil di timur Nusantara yang setiap pekan Paskah seakan berubah wajah.
Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), seolah berhenti dari rutinitas harian, dan larut dalam suasana sakral yang hanya bisa dirasakan, bukan sekadar disaksikan.
Inilah Semana Santa, ritual pekan suci peninggalan Portugis yang telah bertahan lebih dari lima abad.
Semana Santa, yang dalam bahasa Portugis berarti "Pekan Suci", tak sekadar menjadi tradisi keagamaan.
Ia adalah jantung spiritual dan budaya bagi masyarakat Larantuka.
Selama tujuh hari berturut-turut, kota ini hidup dalam suasana doa, kidung syahdu, dan prosesi arak-arakan yang memadukan adat Lamaholot dengan sentuhan devosi Katolik yang mendalam.
Baca Juga: Pria Residivis Berhasil Diringkus Setelah Buron Beberapa Bulan, Pencuri Kotak Amal di Masjid
Prosesi dimulai sejak Rabu Trewa, hari yang mengenang pengkhianatan Yudas dan penangkapan Yesus oleh tentara Romawi.
Pada momen ini, kota Larantuka berselimut hening, hanya suara lonceng duka yang sesekali memecah suasana.
Di sepanjang jalan, penduduk memasang Tikam Turo, pagar kayu bersilang, dihiasi lilin- lilin buatan tangan dari lilin sisa tahun sebelumnya.
Baca Juga: Tim Opsnal Reskrim Polsek Tambora Ringkus Komplotan Spesialis Pencurian Sepeda Motor
Puncak perayaan terjadi di Jumat Agung, saat patung- patung keramat seperti Tuan Ma (Bunda Maria) dan Tuan Ana (Yesus Kristus) diarak mengelilingi kota melewati delapan kapela kecil, simbol keterikatan iman dan leluhur suku-suku di Larantuka.
Artikel Terkait
Sorak dan Salib: Ketika 'Hosana' Berubah Menjadi 'Salibkan Dia!'
Aksi Pencurian di PT Tjiwi Kimia Terulang Lagi, Polisi Ungkap Dalang di Balik Kasus ke-5
Truk Jagung Ternyata Angkut 9,6 Ton Pupuk Bersubsidi, Gagal Masuk Madiun
Arsenal Gagal Jaga Momentum, Brentford Paksa Hasil Imbang Dramatis di Emirates
Ada Apa di Klenteng Mbah Ratu? Puluhan PKL Ditertibkan Satpol PP Surabaya